corat-coret

Kesan Pesan dan Kritik Mahasiswa ITB

Setelah melalui prosesi acara wisuda, baik syukuran maupun sidang terbuka, beberapa kali diadakan penyampaian kesan dan pesan oleh mahasiswa ITB. Kesan dan pesan ini tidak terbatas hanya berupa sanjungan, tapi juga dapat berupa kritik. Kritik ini bahkan dibacakan di depan umum dan orang tua mahasiswa.

Beberapa hal yang berkesan (dengan artian saya masih ingat) adalah sebagai berikut:

  • Cepatlah lulus, Indonesia sekarang bukan butuh aktivis, tapi engineer dan ilmuwan!
  • Mengangkat harkat dan martabat keluarga hanya dapat dilakukan melalui pendidikan (ia berasal dari keluarga kurang mampu)
  • Ingin mencari pasangan anak sipil, biar dapat membangun fondasi rumah tangga
  • Dosen banyak yang tidak penuh mengajarnya. // Sepertinya karena banyak proyek
  • Sangat-sangat banyak yang melakukan sesuatu karena orang tua.
  • Menunggu dosen berjam-jam hanya untuk bimbingan 10-15 menit
  • Teknik belajar 5S. 5 slide baru balas WA, Line, fb, etc.
  • Dan lainnya

Sebelumnya saya tidak pernah menghadiri acara wisuda, dan itu mungkin hal yang seharusnya saya sesali, tapi itu sudah berlalu sehingga tidak perlu disesali. Teman-teman yang masih di tingkat awal, hadirilah acara wisuda, baik sebagai protokoler, KPA, PSM, fotografer, atau perangkat lainnya. Yang penting saksikan acara wisuda, dan dengarkan baik-baik serta ikuti acaranya dengan penuh perhatian, karena itu akan mengubah hidupmu.

Tomorrow is (should be) a Big Day!

Setelah perjuangan bersimbah darah, besok adalah hari kemerdekaan dari status mahasiswa (or should be). Tapi masih ada paper yang akan dikumpul bulan depan. Dan masih belum dapat menikmati masa pengangguran (langsung kerja T_T. Eh, ^_^ // harus bersyukur)

Hari ini selain syukwis, juga sempat bertemu pertama kali dengan orang tua si doi. Merasa salting.banget.banget. Kirain bakal bisa berkelakuan cukup normal.

Semoga hari esok lancar.

Solid or Diversified?

Pagi tadi adalah gladi resik wisuda ITB periode Juli 2014. Pada saat gladi mencapai kata sambutan dari Rektor, yang diperankan oleh Pak Hasan (Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, dan Alumni) — CMIIW — beliau menyampaikan sambutan versinya sendiri.

Selain ucapan selamat, beliau juga menyampaikan jalur kedepannya bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan studi. Ada dua jalur yang beliau anjurkan. Jika ingin menjadi dosen, pilih jurusan yang sama dengan jurusan saat ini, baik untuk S2 maupun S3. Sementara jika ingin bergerak di bidang pemerintahan atau lainnya, pilih jurusan yang berbeda. S1 Informatika, S2 Ekonomi, dan S3 mungkin ilmu pemerintahan.

Ini merupakan opini yang menarik. Saya sendiri merasa opini ini cukup baik dan ada benarnya. Ilmu yang terdiversifikasi membuat pandangan lebih luas sehingga tidak terpaku ke satu sisi saja. Pemerintahan menurut saya cukup diperlukan pandangan yang luas dan pemikiran yang out-of-the-box. Maksud saya pemerintahan tentunya bukan hanya orang kantor yang datang kantor duduk leha-leha dapat gaji. Tapi pemimpin yang dapat menggerakkan dan mengawasi bawahan untuk dapat menyelesaikan tugas sebaik-baiknya, sehingga dapat menjamin kehidupan rakyat yang makmur dan sejahtera.

Ilmu yang khusus memang diperlukan untuk menjadi dosen, dimana dosen ini menjadi tokoh utama dalam pelaksanaan riset di universitas. Riset-riset universitas ini sendirinya diharapkan dapat memajukan bangsa dan memenuhi kebutuhan rakyat.

Kedua pilihan ini merupakan bentuk pengabdian. Suatu saat nanti mungkin saya akan mengalami diversifikasi atau solidifikasi. Kemanapun angin berhembus.

We are the winner! Or not?

Saatnya rakyat Indonesia berpesta! Karena rakyat Indonesia berhasil memperoleh kemenangannya pada pesta demokrasi ini! Bukan karena A atau B menang, tapi karena lebih dari 75% rakyat berpartisipasi dalam pemilu, sebuah rekor yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Sayang, pada akhirnya akan sulit pesta ini selesai dengan damai. Berbeda dengan pemilu Jakarta, dimana Fauzi Bowo (Foke) dengan damai mengakui kekelahan, saat ini kedua kelompok calon pemimpin Indonesia malah mengaku menang. Bahkan Quick Count pun memiliki hasil yang berbeda-beda.

Alhasil, pada saat KPU mengumumkan hasil, yang kalah akan berteriak kecurangan karena perhitungan yang ia miliki menyatakan ia menang.

Semoga Indonesia diberikan yang terbaik.

Syukuran Wisuda

Setiap ada kebahagiaan, selalu ada yang namanya syukuran. Demikian juga wisuda, yang notabene hari itu untuk wisudawan.

Kali ini, saya merupakan salah satu orang yang akan diwisuda. Seharusnya sih demikian. Udah dapat toga, dan udah menanda-tangani ijazah. Satu-satunya Informatika 2009 yang lulus periode ini. Bukan karena sangat tepat waktu, teman-teman banyak yang udah duluan di tiga periode sebelumnya. Bukan juga karena sangat telat, masih ada beberapa teman yang belum wisuda.

Setiap periode wisuda, himpunan selalu mengadakan syukuran wisuda. Demikian pula periode ini, yaitu pada hari Senin lalu. Sebenarnya saya enggan datang, karena masa angkatan saya sudah lewat. Ditambah lagi hari kerja, jadi pasti teman-teman seangkatan saya pada ngantor. Tapi ya sudahlah, masih ada teman-teman yang berkata akan datang, jadi demi mereka saya datang (ga hanya demi mereka juga sih sebenarnya, hehe).

Membuat sedih sih, sebenarnya datang. (1) menyadarkan terlalu telat lulus, (2) I almost don’t know anyone. Tapi tetap ada kegembiraan yang diperoleh. (1) meet long time no see friends, (2) got more testimonies than what I expect — I believe coming to the party gave an effect, (3) heard beloved song from beloved one.

I read all of it. Ada yang “err”, ada yang membuat terharu, ada yang membuat pengen nyemangatin. Special thanks to you all, termasuk anon, dan semua inisial yang beberapa gagal saya tebak siapa *maaf*.

Saya orang yang mungkin dikategorikan ansos. I just can’t care enough about it. Sorry. But I treasure every feeling given to me, although I’m not very able to express my feeling to everyone. Thank you everyone.

Sebenarnya pengen masukin foto souvenir dan lain-lain. Tapi terlalu malas untuk mengambil foto menggunakan kamera hp, kemudian memindahkan dari hape ke komputer, kemudian mengupload dari komputer ke wordpress. Ditambah lagi kamera hape ku udah cacat. Haha. Ya sudahlah.

Good night everyone.

Pemilu, Pemecah Bangsa – Sang Pembuat Pilu

Pilu, saat mulai menetapkan pilihan, dan mulai mengungkapkan pendapat, semuanya berubah.

Saya tahu, mungkin pilihan saya tidak sempurna. Tapi kenapa kalian menuhankan pilihan kalian? Pilihan saya cacat. Pilihanmu juga cacat. Tidak ada manusia yang sempurna, teman. Tidakkah kau menyadari dirimu menyakiti teman yang telah bersamamu bertahun-tahun dengan tidak menghargai pilihannya?

Apakah itu yang dinamakan Bhinneka Tunggal Ika? Sudah lupakah dengan doktrinasi SD, berbeda-beda tetapi tetap satu? Ataukah sebenarnya hanya berbeda-beda tetapi cuma satu?

Ya, mungkin sebagian perbedaan tidak pantas diterima. Tetapi kenapa kalian melemparkannya ke orang yang tidak bersalah? Kenapa kalian melampiaskannya ke sahabat kalian, yang telah kalian kenal sekian lama? Pemilu lah yang membuat kalian lupa dengan ikatan tali silaturahmi.

Wahai saudara sebangsa dan setanah air, ingatlah kalian hidup di atas bumi pertiwi. Dengan penuh ragam suku budaya, adat istiadat dan etika. Media sosial, membuat jarak menghilang, sehingga kalian tidak sadar sentilan sederhana dapat menyinggung perasaan saudara kalian di pulau seberang.

Bukan, aku bukan mengeluh karena dari suatu pihak. Kedua pihak mengalami hal yang sama. Kalian mendukung A, tapi berada di daerah B? Semua terasa sedang menjelekkan A. Kalian mendukung B, tapi berada di daerah A? Semua terasa sedang menjelekkan B. Aku berada di keduanya, sehingga merasakan keduanya.

Sungguh menyedihkan. Mungkin karena itulah namanya pemilu. Pilu dengan imbuhan pe-, Pembuat Pilu.