corat-coret

We are the winner! Or not?

Saatnya rakyat Indonesia berpesta! Karena rakyat Indonesia berhasil memperoleh kemenangannya pada pesta demokrasi ini! Bukan karena A atau B menang, tapi karena lebih dari 75% rakyat berpartisipasi dalam pemilu, sebuah rekor yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Sayang, pada akhirnya akan sulit pesta ini selesai dengan damai. Berbeda dengan pemilu Jakarta, dimana Fauzi Bowo (Foke) dengan damai mengakui kekelahan, saat ini kedua kelompok calon pemimpin Indonesia malah mengaku menang. Bahkan Quick Count pun memiliki hasil yang berbeda-beda.

Alhasil, pada saat KPU mengumumkan hasil, yang kalah akan berteriak kecurangan karena perhitungan yang ia miliki menyatakan ia menang.

Semoga Indonesia diberikan yang terbaik.

Syukuran Wisuda

Setiap ada kebahagiaan, selalu ada yang namanya syukuran. Demikian juga wisuda, yang notabene hari itu untuk wisudawan.

Kali ini, saya merupakan salah satu orang yang akan diwisuda. Seharusnya sih demikian. Udah dapat toga, dan udah menanda-tangani ijazah. Satu-satunya Informatika 2009 yang lulus periode ini. Bukan karena sangat tepat waktu, teman-teman banyak yang udah duluan di tiga periode sebelumnya. Bukan juga karena sangat telat, masih ada beberapa teman yang belum wisuda.

Setiap periode wisuda, himpunan selalu mengadakan syukuran wisuda. Demikian pula periode ini, yaitu pada hari Senin lalu. Sebenarnya saya enggan datang, karena masa angkatan saya sudah lewat. Ditambah lagi hari kerja, jadi pasti teman-teman seangkatan saya pada ngantor. Tapi ya sudahlah, masih ada teman-teman yang berkata akan datang, jadi demi mereka saya datang (ga hanya demi mereka juga sih sebenarnya, hehe).

Membuat sedih sih, sebenarnya datang. (1) menyadarkan terlalu telat lulus, (2) I almost don’t know anyone. Tapi tetap ada kegembiraan yang diperoleh. (1) meet long time no see friends, (2) got more testimonies than what I expect — I believe coming to the party gave an effect, (3) heard beloved song from beloved one.

I read all of it. Ada yang “err”, ada yang membuat terharu, ada yang membuat pengen nyemangatin. Special thanks to you all, termasuk anon, dan semua inisial yang beberapa gagal saya tebak siapa *maaf*.

Saya orang yang mungkin dikategorikan ansos. I just can’t care enough about it. Sorry. But I treasure every feeling given to me, although I’m not very able to express my feeling to everyone. Thank you everyone.

Sebenarnya pengen masukin foto souvenir dan lain-lain. Tapi terlalu malas untuk mengambil foto menggunakan kamera hp, kemudian memindahkan dari hape ke komputer, kemudian mengupload dari komputer ke wordpress. Ditambah lagi kamera hape ku udah cacat. Haha. Ya sudahlah.

Good night everyone.

Pemilu, Pemecah Bangsa – Sang Pembuat Pilu

Pilu, saat mulai menetapkan pilihan, dan mulai mengungkapkan pendapat, semuanya berubah.

Saya tahu, mungkin pilihan saya tidak sempurna. Tapi kenapa kalian menuhankan pilihan kalian? Pilihan saya cacat. Pilihanmu juga cacat. Tidak ada manusia yang sempurna, teman. Tidakkah kau menyadari dirimu menyakiti teman yang telah bersamamu bertahun-tahun dengan tidak menghargai pilihannya?

Apakah itu yang dinamakan Bhinneka Tunggal Ika? Sudah lupakah dengan doktrinasi SD, berbeda-beda tetapi tetap satu? Ataukah sebenarnya hanya berbeda-beda tetapi cuma satu?

Ya, mungkin sebagian perbedaan tidak pantas diterima. Tetapi kenapa kalian melemparkannya ke orang yang tidak bersalah? Kenapa kalian melampiaskannya ke sahabat kalian, yang telah kalian kenal sekian lama? Pemilu lah yang membuat kalian lupa dengan ikatan tali silaturahmi.

Wahai saudara sebangsa dan setanah air, ingatlah kalian hidup di atas bumi pertiwi. Dengan penuh ragam suku budaya, adat istiadat dan etika. Media sosial, membuat jarak menghilang, sehingga kalian tidak sadar sentilan sederhana dapat menyinggung perasaan saudara kalian di pulau seberang.

Bukan, aku bukan mengeluh karena dari suatu pihak. Kedua pihak mengalami hal yang sama. Kalian mendukung A, tapi berada di daerah B? Semua terasa sedang menjelekkan A. Kalian mendukung B, tapi berada di daerah A? Semua terasa sedang menjelekkan B. Aku berada di keduanya, sehingga merasakan keduanya.

Sungguh menyedihkan. Mungkin karena itulah namanya pemilu. Pilu dengan imbuhan pe-, Pembuat Pilu.

Pemilu 9 Juli 2014

Saat ini saya domisili di Bandung, walaupun kependudukan Pekanbaru, namun telah memiliki A5 yang di-cap, sehingga siap untuk memilih di TPS 9 Juli nanti.

Tapi sebenarnya masih ada masalah yang lebih penting dari itu. Ingin memilih siapa? Sampai detik ini, saya masih belum dapat dengan pasti menentukan pilihan antara A (no urut 1) dan B (no urut 2). Sekarang lagi berusaha untuk menentukan pilihan dengan menulis, kali-kali saja menjadi lebih terstruktur sehingga dapat mengambil keputusan.

Mari bahas dengan perangkat standar, yaitu SWOT (Strength – Weakness – Opportunity – Threat).

Mungkin ada yang belum saya tuliskan,  silahkan komentari dan akan saya tambahkan jika menurut saya tepat, dan bukan black campaign.

Dari SWOT ini, kesimpulan yang saya dapat adalah secara pribadi, A lebih kuat daripada B, tetapi kesempatan yang ditawarkan oleh B lebih menarik dibanding A. Belum lagi ancaman yang mungkin terjadi untuk A. Untuk yang islami sepertinya pilihan sudah bulat jatuh ke A, tidak peduli dengan orba dan HAM, yang penting agama terjamin kemurniannya.

A sendiri, seperti yang telah saya ungkapkan, pribadinya lebih kuat, cocok untuk posisi pemimpin. Tapi koalisi besar sendiri menjadi sebuah ancaman. Perlu diingat, bahwa SBY merupakan militer dan lulusan akmil terbaik, lebih kurang sama seperti A. Bahkan, Demokrat berhasil meraup suara lebih dari 20% sehingga dapat bebas koalisi. Namun tetap saja, banyak keputusan yang cari aman, yang menurut pribadi saya karena janji politik.

Entah karena akhir-akhir ini terlalu banyak yang mendukung A, sehingga saya jadi condong ke B. Ditambah lagi, saya sejak dulu benci yang namanya partai, karena pasti jatuh dengan kepentingan partai, bukan kepentingan negara.

Jika ada pembaca yang ingin berdiskusi, silahkan komentari.

Kenapa KTP untuk umur 17?

Ini hanya sebuah pemikiran iseng.

Sebenarnya bukan KTP yang saya permasalahkan, tetapi adakah sebuah identitas yang berlaku untuk seorang warga negara Indonesia, mulai dari ia lahir, hingga ia meninggal? Apakah seorang bayi, belum menjadi penduduk Indonesia?

Sebenarnya pemikiran ini bermula dari kenyataan banyaknya anak jalanan. Kenapa mereka berada di jalan? Bukankah mereka merupakan tanggung jawab negara? Tapi kemudian jawaban saya atas pertanyaan saya adalah, bagaimana mendata mereka? Belum tentu mereka sudah memiliki KTP, atau bahkan punya keinginan untuk mengurus KTP.

Menurut saya, KTP yang baru ada pada umur 17 tetap diperlukan, tapi perlu ada identitas keseluruhan, yang mengaitkan seluruh identitas lain dengan identitas ini. Semacam single sign-on gitu deh. Kalau di US sono, namanya SSN, alias Social Security Number. Dari kecil (mungkin dari lahir) setiap penduduk (bahkan penduduk asing yang bukan wisatawan) diwajibkan memiliki SSN ini.

Segala sesuatunya perlu berhubungan dengan SSN ini. Mulai dari penghasilan, urusan pembuatan tabungan, surat izin, dan lainnya. Bahkan mungkin juga untuk urusan kesehatan.

Kata seorang sahabat, pas kecil kita menggunakan surat lahir. Nah, apa guna surat lahir ini? Cuma untuk masuk sekolah kan? Kalau mereka bukan orang mampu, dan tidak berpikir untuk sekolah, sehingga tidak mengurus surat lahir, dan kemudian anaknya hidup di jalanan, mereka siapa? Toh surat lahir dipakainya cuma untuk sekolah. Tapi ga tau sih, aku ga pernah ingat surat lahirku dipakainya untuk apa saja.

Sistem di Indonesia emang terkadang rada nyeleneh. Yang gampang dibuat susah. Yang perlu dianggap nyusahin. Entahlah.

Open Data dan Privasi

Pernah dengar dengan istilah Open Data?

Saat ini kepikiran aja mengenai masalah Open Data dengan privasi. Sebenarnya saya mendukung data yang terbuka, karena mudah dimanfaatkan. Tapi mudah dimanfaatkan, dapat berarti mudah disalahgunakan. Sebagai contoh adalah data DPT dari KPU.

Mungkin sebenarnya tidak ada maksud dari KPU untuk membuat data tersebut terbuka. Tapi tetap saja, data tersebut dapat dengan mudah di-crawl. Syukur kalau dimanfaatkan untuk hal yang positif (misal, data mining). Tapi kalau digunakan untuk sarana SMS mama papa? *doh*

Saya sendiri sebenarnya sedang melakukan crawling terhadap data tersebut. Mungkin dapat digunakan untuk data machine learning yang kelasnya sedang saya ikut di coursera. *Iye, gw baru ngikutin, kenape emangnya?*
Walau mungkin tidak relevan dan tidak dapat digunakan. Tapi yang namanya informasi itu pasti mahal. Agak takut sih, sebenarnya. Tidak tahu apakah ada UU yang menetapkan web crawling menjadi pelanggaran. Harusnya sih ga masalah. Salah programmernya web KPU dong, kenapa ga mikirin aspek ini. Harusnya ga boleh dengan mudah di-crawl. Tapi ya sudahlah. Setidaknya tidak ada data yang benar-benar sensitif, selain lokasi tempat tinggal dan sekian digit NIK.

Semoga hardisk saya cukup untuk menampung datanya (perkiraan butuh 30GB), dan semoga internet baik-baik saja selagi melakukan crawling. Kode yang digunakan sangat bruteforce, karena pola yang terlalu simple untuk melakukan crawling.

Dan semoga besok ga tiba-tiba ada FBI (Folisi Bangsa Indonesia *maaf*) yang menggrebek.

Kisah Propemgraman

Ini adalah sebuah tulisan yang berusaha ditulis se-absurd mungkin untuk menjadi puisi. Mungkin dapat menjadi obat tidur bagi teman yang membaca. Kalau ada kritik silahkan, biar dibuat makin absurd. Oh iya, judulnya tidak typo.

—————————————————————————

Detik berlalu, namun ku tetap terpaku
Tanganku kaku menatap layar, tulisan putih diatas hitam
Sungguh, kumenunggu kompilasi yang tak kunjung selesai
Saat kau muncul dan berteriak,
Mana titik koma?!!

Kuubah dan kuketik lagi perintah kompilasi
g++, gcc. fpc, etc.
Kuingat kucatat dan kuhapal arti tiap perintah
Paksaan untuk ditulis dalam makefile
Tapi kemudian kumenyerah dan kopas saja yang lama

Itu dulu.
Kini kukenal eclipse dan netbeans
Leksikal, semantik analisis mewarnai merah
Cegah ku hilang titik koma
Walau sungguh tak kumengerti apa yang terjadi
Saat F6 dan F9 tak bekerja

 

Kini ku beranjak remaja
Kumengenal kisah seorang pekerja
Bosnya hanya bisa menyuruhnya kerja
Tanpa sepengetahuan bosnya, pekerja akan melukis
pekerja akan bernyanyi, agar pekerja selesai bekerja.
Kisahnya bernama enkapsulasi.

Kukenal dengan cerita tentang kendaraan yang abstrak
Ia pasti dapat berjalan, dan punya mesin.
Tapi realisasi yang tentukan cara berjalan
Dengan roda atau dengan sayap
Kisahnya bernama abstraksi

Akupun punya cerita
Tentang kesatria segala bisa
Saat perang ia menjadi jendral
Saat belanja ia menjadi pedagang
Mengubah diri sesuai dengan situasi
Kesatria itu bernama polymorphism

 

Kini ku beranjak dewasa
Belasan kelas telah kutulis
Tapi ku masih butuh ratusan lagi
Hingga kukenal dengan pustaka
Hap hap hap. Belasan pustaka terlahap.

Tapi pustaka satu ini sungguh menyakiti
Karena dia butuh pustaka A yang butuh pustaka B yang butuh pustaka C yang butuh pustaka D huaaaah
Saat itulah google bercahaya dengan harapan
menaut maven saudara ivy, menjadi penyelamat programmer
Solusi atas masalah ketergantungan pustaka.

 

Kini ku sudah tua
Tak kupersoalkan lagi hal-hal kecil
Aku hanya ingin semuanya cepat selesai
Semuanya harus efisien!
Djikstra, KNP, DP, Bellman-Ford, RBT,
Si A si B si C aku tidak peduli!
Yang penting N log N! karena kutak lagi muda

Kuajak teman-temanku yang lain
Bekerja dalam cluster secara paralel
Membagi masalah hingga kecil dan mudah
Setiap teman punya tugas masing-masing
Message Broker, Map Reduce, Elastic Search,

 

Kulupa kutaklagi di dunia
karena telah berada di awan.

 

The Fault in Our Stars

http://www.imdb.com/title/tt2582846/
Fault in Our Stars

First of all, I watched the movie, not read the book. POV I give will be based on the movie. Overall, it’s a decent movie. If you are melancholic person, I recommend it. If you are ignorant, you should watch it. But if you are easily depressed, you should only watched it in a happy condition, with happy and optimistic friends. It’s an anticipation to make you will still be able to do something productive on the next day.

No, the movie is not that gloomy. You will never tell yourself, “he should have done this, she should have done that” that make you depressed and screaming to the sky (yep, totally different with the latest Transformer). I think the story written quite flawless, you can understand the characters, hence you can easily immersed to the story and held captive.

There are some parts that interesting for me. I am going to describe it started from the most interesting.

 

Middle of sentence ending

It’s about a book that ended with half finished sentence. It’s an interesting idea, but totally overkill. There are many books that ended with many things not being told. Often it given to reader to fill it with their imagination, or there will be another sequel. A really really good book will give a satisfied ending, a balance between the unknown and the known, that tickle readers imagination to fill it with their own version.

But still, it’s an interesting idea. And it can’t be applied to many context, only in story that have tragic ending, where the story teller died at the end of story.

 

“Some infinities are bigger than other infinities.”

The simple example given to explain it was, real numbers between 0 and 1, vs  real numbers 0 and 2. Both are infinite, but intuition will make real numbers between 0 and 2 seems more than between 0 and 1.

It’s an interesting concept, but infinities are infinities and by concept it’s boundless. (Although there is something called continuum hypothesis)

Still, moral of the story, what given to you is boundless, when you asked for something, you are actually asking to increase the bound of the boundless. I mean, say thanks for what you have, you already have so many things, you know. Oh, it doesn’t mean you can’t ask, don’t misinterpreted it.

 

“Pain is to be Felt “

(or something like that)

I don’t know about you, but pain is perfectly okay in life. No matter who you are, life will go up and down, there will be joy and pain. With pain, you understand joy. With failure, you able to undestand success.

Also, pain is really need to be felt. DON’T RUN AWAY from the pains. Quote from another book, “Embrace the pain”. When you are able to past the pain, you will be able to  grow up. Like my love often said, you need to pass the exam before able to take the next level and the next step.

 

“Some people don’t understand the promises they’re making when they make them”

It’s just a reminder for me. My reaction is, it’s not I don’t understand, but I think I understand. Well, I still think it’s better to try than to give up.

 

Weak Resolve

Often, I think myself have a weak resolve.

It’s the third time I promise I’ll consistently write something in my blog. But you know what? Human is weak. It’s okay for them to have failure. You just need to try it again. People always saying failures is part of success. The important thing is to not give up because of one failure.

It’s not about mistake, but it’s about learning. Don’t give a same context for them. When you heard “donkey never fall to the same hole”, don’t be discouraged to try something that you have tried and failed. Donkey’s problem is different with human problem.

It’s in human nature to make mistakes and mistakes before he can fully understand. Not just causally understand, “I should not move that way because I will fall to hole”, but totally understand, “There is a hole there, it’s 5m deep and 2m width, I can use rope if I want to go in, and I can step aside to move past it. But the hole is created to trap wild animals, not to hide from enemy, so I should get away from here fast”.

In the end, don’t afraid to try something, whether it’s the first or second try, just because you don’t want to make mistake. It’s always better trying to do something instead of doing nothing.

Analisis Kejadian KM-ITB vs Jokowi

Disclaimer: Ini adalah delusi dan halusinasi pikiran saya. Anggap sebagai fiksi, kesamaan nama, tempat, dan lain-lain adalah akibat pengaruh dunia nyata.

 

Jadi saya terlibat dengan kejadian hari ini di kampus mengenai kehadiran Jokowi untuk kuliah umum. Sebenarnya saya sangat malas dengan politik, karena penuh dengan intrik. Bagi yang sering membaca novel dengan latar belakang kerajaan, mungkin mengenal istilah Game of House.

Ceritanya Jokowi diundang pada beberapa minggu / bulan yang lalu untuk memberikan kuliah umum. Namun beliau berhalangan dan baru bisa hadir hari ini, pada saat yang sama dengan penandatanganan MoU antara ITB dan Jakarta.

Ada 2 hal yang bisa dilihat disini, Jokowi sengaja menunda dan “memilih kesempatan yang lebih tepat”, atau memang berhalangan. KM-ITB, yang menekankan “Tolak Politisasi Kampus”, atau “Sikap Netral Politik” atau apapun itu namanya, tidak ingin melepaskan kemungkinan pertama karena waktu sekarang adalah masa kampanye politik. Dengan bersenjatakan peraturan KPU 15/2013 Pasal 17 ayat 1 poin a yang berbunyi sebagai berikut:

“Alat peraga kampanye adalah semua benda atau bentuk lain yang memuat visi, misi, program, dan/atau informasi lainnya yang dipasang untuk keperluan Kampanye Pemilu yang bertujuan mengajak orang memilih Peserta Pemilu dan/atau calon anggota DPR, DPD dan DPRD tertentu.”

Dengan definisi alat peraga kampanye di Pasal 1 ayat 22:

“Alat peraga kampanye adalah semua benda atau bentuk lain yang memuat visi, misi, program, dan/atau informasi lainnya yang dipasang untuk keperluan Kampanye Pemilu yang bertujuan mengajak orang memilih Peserta Pemilu dan/atau calon anggota DPR, DPD dan DPRD tertentu.”

Jika kita melihat definisi tersebut, apabila Jokowi menyampaikan visi, misi atau program atau informasi apapun yang menjadi kepentingan kampanye, Jokowi adalah alat peraga kampanye.

KM-ITB menekankan untuk menolak politisasi kampus. Namun, menurut saya KM-ITB kurang bijak dalam menangani hal ini. KM-ITB terang-terangan berdemo dan menekankan hal tersebut, seakan-akan yang ditolak adalah Jokowi. Padahal dalam rangkaian acara Jokowi akan memberikan kuliah umum mengenai tata kota Jakarta. Walaupun mungkin Jokowi memang “memilih kesempatan yang lebih tepat” untuk memberikan kuliah umum. Sikap netral berubah menjadi Sikap Anti Jokowi.

Jokowi yang mungkin menunda kuliah umum dan memilih kesempatan  yang lebih tepat menurut saya normal dalam politik, atau Game of House. KM-ITB sayangnya tidak bisa melakukan permainan yang sama, ya toh menolak politisasi kampus, ya mana ngerti yang namanya permainan politik. Sikap netral bukan dengan berdemo dan berteriak menolak di depan Jokowi. Menurut saya, sikap netral adalah mencegah (dalam artian, jangan berikan kesempatan Jokowi memberikan kuliah umum), atau jika sudah terlanjur basah (karena sudah diberikan undangan atau tidak bisa dicegah) dengan mendengarkan tapi tidak memberikan janji.

Lagian seandainya Jokowi datang, kemudian memanfaatkan kesempatan untuk berkampanye, secara tidak langsung Jokowi telah melanggar peraturan KPU tersebut, karena telah menjadi alat peraga kampanye. Lawan politik Jokowi seharusnya memilih langkah ini dan melaporkan ke KPU, karena menurut saya lebih cantik. Walaupun cara ini riskan, karena apabila Jokowi dapat menyampaikan kuliah dengan baik, besar kemungkinan citranya malah akan meningkat. Lawan politik yang takut mungkin lebih memilih untuk mencegah dengan segala cara agar Jokowi tidak memberikan kuliah umum.

Saya bukan mahasiswa yang aktif di KM-ITB. Tapi saya sempat mendengar demo yang dilakukan oleh KM-ITB di gerbang selatan ITB. Saya tidak mendengarkan isi apa yang mereka demokan, karena penyampaiannya penuh teriakan dan seakan marah. Siapapun akan menganggap bahwa mereka menolak kehadiran Jokowi walaupun sebenarnya menolak politisasi kampus. Kenapa harus berteriak sih? Apakah spanduk yang kalian bentangkan itu tidak bisa dibaca sama orang? Kenapa harus menghadang mereka masuk sih? Apakah di mobil ada alat peraga kampanye? Ada stiker PDI-P? Ada tulisan visi misi Jokowi? Kenapa melakukan sesuatu yang alasannya tidak jelas? Disini menurut saya KM-ITB melakukan langkah yang salah dengan menghadang dan melarang Jokowi berbicara, karena telah menjadi tidak netral, tetapi menjadi pihak yang menolak Jokowi berbicara di kuliah umum.

Lain halnya apabila KM-ITB (atau pihak di belakang KM-ITB, tidak menutup akan kemungkinan ini – baca footnote) tidak ingin citra Jokowi naik, maka Jokowi tidak berbicara adalah harga mati.

Apa yang dilakukan Jokowi? Menurut saya langkah balasan Jokowi adalah tindakan yang baik, yang membuat saya mengerti kenapa Jokowi ditakuti oleh lawan politiknya. Jokowi datang ke kuliah umum, kemudian menyapa, kemudian pergi, dan meninggalkan kesan, “Saya sudah hadir loh, tapi ada yang diluar takut saya malah berpolitik di sini, padahal mau nyampain kuliah tentang tata kota Jakarta.” Jokowi tetap berhasil menaikkan citranya (dengan datang, dan membuat peserta kuliah umum yang hadir kecewa karena demo di luar), tetapi pihak di belakang KM-ITB (let’s say AntiJ) juga berhasil mencegah kenaikan citra yang lebih besar apabila Jokowi berhasil menyampaikan kuliah umum tanpa menurunkan citra-nya sendiri. KM-ITB? Menjadi pihak dengan citra yang turun dan diperalat dengan demo kekerasannya.
1 untuk Jokowi, 1 untuk AntiJ, 0 untuk KM-ITB.

 

footnote:

KM-ITB, dengan sikap netral dan menolak politisasi kampus membuat mahasiswa enggan berpolitik. Hal ini mungkin dianggap bagus oleh banyak “House”, karena mahasiswa dari golongan commoner, dan “House” adalah noble. Walaupun mahasiswa mungkin memiliki kemampuan yang lebih, tapi noble tidak ingin kerajaan mereka diambil alih. Bangsawan mana yang ingin diperintah oleh rakyat jelata? Sikap anti politik ini membuat mahasiswa mudah diperalat. Commoner menjadi bawahan noble karena mereka tidak mengerti dan tidak punya resource. Mahasiswa tetap akan menjadi commoner selama tidak mengerti walaupun punya resource, karena dengan gampang resource itu akan hilang karena lugunya mereka.