corat-coret

Don’t use errr in giving speech

There are many reason not to.

First, it breaks your listener concentration. It’s a small thing at first, then your listener start noticing your err instead of content of your talk. For every err they heard, their annoyed level increased. They are getting not focused and then they started counting on how many times you said err in your talk. Instead, keep it silent, put your serious pose, that made your listener increase their attention, or give time for them to absorb what you have said.

Second, it make you sound less serious. Have you prepared it? Do you know what you are talking  about? It also looks silly, and unprofessional. Prepare for every talk you are going to do, even if it’s only five minutes talk. Think it as investment, that you will be giving speech to thousands of people, and this is a preparation for that. You will be giving speech, it might be on your birthday event, or your wedding, or your company speech, or your child graduation. You might hate it, but it is important to others that you talk.

Third, it make you harder to think and concentrate. When you start using too much err in your words, it might mean you are getting nervous, your blood rising up, you might be sweating. If you are realizing it, take a deep breath, start talking slowly, one word at a time. Build your pace to comfortable level.

Fourth, it make you ignorant to your listener. You will focus on sound of you talking with err, instead of engaging your listener, either with your body language, or your word intonation.

Giving speech is a skill that can be trained and mastered. You might have this habit, but you can learn to stop it, or decrease it.

But you know what? I’m in no way have mastery of giving speeches, and what I wrote in this post are bull shit, random thing that have no scientific bases, and a pinch of my experience. Well, shit still can be used for fertilizer, so it is far better than trash. May my shit fertilize your way in giving talk. Happy learning!

2016 is Now!

Remember Sam**ng G***xy tagline? Next is now! 2016 is now!

Do you know when people get older, often they will feel time flies faster? I’ll try to tell you why based on some theorems out there. Let’s say a man life X years, and one year is 365 days. Age 1, he have passed 1/X of his lifetime, hence he have (X-1)/X lifetime left. Each day he will pass (X-1)/365 of his lifetime. At age 20, he have passed 20/X of his lifetime, hence he have (X-20)/X lifetime left. Each day he will pass (X-20)/365 of his lifetime. (X-20)/365 is noticeably less than (X-1)/365. Human mind’s perceived that as time flies faster. Q.E.D.

Continue with reading

Tidak Semangat Menulis dan Evernote

Terlalu malas untuk menulis, walaupun setiap ada ide menarik untuk dijadikan tulisan, selalu dicatat. Saat ini ada 16 ide, yang bisa dituangkan menjadi tulisan. Sayangnya terkendala oleh waktu (sebenarnya bisa saja disempatkan, tapi prioritasnya selalu berada dibawah dibandingkan yang lain).

Btw, saya mulai menggunakan evernote lagi untuk mencatat berbagai hal, termasuk untuk mencatat ide, clipping article, daily-task, dan lain-lain. Ada yang punya tips dan trik yang membuat menggunakan evernote menjadi lebih menarik? Kalau saya, penggunaan notebook _INBOX (default notebook). Semua notes baru diletak di notebook tersebut, dan kemudian baru diorganisasikan malamnya. Ini juga membantu saya mereview apa saja yang telah saya lakukan. Kalau kalian bagaimana?

Hidup yang Scalable

Hidup itu ga boleh terikat keadaan. Sama kayak webserver. Harus stateless biar scalable. Kalau gak, susah untuk serve million of users.

Kalau emang cuma serve sedikit user, ya silahkan kalau itu dapat memuaskan hidupmu. Kalo aku sih no. Ga bisa dan ga tahan. Hidup udah dikasi dengan kemampuan jauh lebih dari hewan tapi kok cuma pentingin diri sendiri. Yang membuat hidup lu terbatas ya keadaan. Balik lagi, emang keadaan apa yang mengikat lu? Lepasin aja ikatannya.

Tapi trade off sih memang ya. Semua hal memang ada trade off nya. Kalau pengen performance, kadang masalah di memory. Kalau pengen murah, malah masalah di kualitas. Balik lagi ke tujuan dari si software. Kalau soal hidup, balik lagi ke tujuan hidup lu apa.

Kalau gw pribadi sih, setelah pemikiran panjang bertahun-tahun, yang membuat gw sering stress dan hilang arah dan hilang (literally) karena tujuan hidup yang ga jelas, ya gw memilih untuk memberi berkat ke banyak orang. Untuk serve millions of people. Itu. Tidak. Gampang. Banyak konflik kepentingan.

Banyak sih yang mau dilepaskan uneg-unegnya. Tapi ya sudahlah.

Ditelpon orang Forgerock

Ceritanya lagi eksplorasi mengenai tools yang dapat digunakan untuk centralized identity management. Salah satu tools yang dieksplorasi adalah OpenAM dan OpenIDM. Eksplorasi telah dimulai sejak 1 minggu yang lalu. License dari tools ini adalah CDDL. Tapi forgerock punya bisnis model khusus. Binary dari tools tidak dapat di download walaupun kodenya tersedia. Mungkin building dapat dilakukan mandiri, tapi kebenarannya tidak diketahui. Untuk mendapatkan binary yang telah melalu proses QA, pengguna harus menggunakan subscription license.

Hal tersebut lah yang dipromosikan oleh orang Forgerock yang menelepon (Somehow nomor yang digunakan untuk menelepon memiliki depan +62813). Saya merasa agak lucu, kode yang open source, tapi hanya sebagian saja. Jadi patch untuk setiap major version tidak di release ke publik. Hanya kode major version saja yang dirilis. Sementara untuk mendapatkan kode patch tersebut harus melakukan subscription.

Tapi emang sih, dari license-nya ditulis

3.1. Availability of Source Code.

Any Covered Software that You distribute or otherwise make available in Executable form must also be made available in Source Code form and that Source Code form must be distributed only under the terms of this License. You must include a copy of this License with every copy of the Source Code form of the Covered Software You distribute or otherwise make available. You must inform recipients of any such Covered Software in Executable form as to how they can obtain such Covered Software in Source Code form in a reasonable manner on or through a medium customarily used for software exchange.

Jadi sepertinya sah-sah saja kalau untuk mendapatkan kodenya harus bayar….

Toga sebagai Pakaian Kelulusan

Pernah kah menyadari, bahwa kelulusan dari universitas dimanapun, selalu menggunakan pakaian toga?

Saya sendiri sebenarnya baru menyadari saat wisuda. Walaupun mungkin sedikit ada perbedaan model, tapi baik di universitas Indonesia maupun universitas di amerika tetap menggunakan toga (CMIIW). Kalau coba di cari, katanya toga berasal dari pakaian sehari-hari romawi, yang kemudian berubah menjadi pakaian pejabat, hingga kemudian di zaman sekarang menjadi pakaian kelulusan universitas.

Kira-kira apa ya, yang menjadi alasan pemilihan toga sebagai pakaian kelulusan? Kalau menurut saya, berdasarkan sedikit pengetahuan yang saya miliki, mungkin, alasannya adalah karena romawi pernah menjadi pusat peradaban. Atau mungkin toga sebenarnya dari tiongkok? Kalau dibanding-bandingkan, pakaian tionghoa sedikit mirip toga (agak lebar-lebar gitu…). Yunani sendiri, yang merupakan zamannya Plato, Aristoteles, dan lain-lain, juga mungkin dapat disebut sebagai awal peradaban intelektual, yang kemudian diasimilasi oleh romawi. Menurut saya toga berasal dari salah satu peradaban tersebut, untuk mencerminkan kemapanan secara intelektual.

Tapi entahlah.

Lalu, ada juga aktivitas simbolik memindahkan tali toga dari kiri ke kanan. Tapi entah kenapa di ITB tidak ada dilakukan. Kalau berdasarkan internet, katanya pemindahan itu untuk menyimbolkan berakhirnya penggunaan otak kiri (logika) selama kuliah untuk kemudian digunakan bersama-sama dengan otak kanan (kreativitas dan imajinasi) di dunia nyata. Mungkin di ITB tidak dilakukan karena kedua otaknya harus digunakan agar survive, kali ya?

Tapi, lagi-lagi, entahlah.

Mungkin ada yang mengetahui alasannya secara pasti?

 

Kesan Pesan dan Kritik Mahasiswa ITB

Setelah melalui prosesi acara wisuda, baik syukuran maupun sidang terbuka, beberapa kali diadakan penyampaian kesan dan pesan oleh mahasiswa ITB. Kesan dan pesan ini tidak terbatas hanya berupa sanjungan, tapi juga dapat berupa kritik. Kritik ini bahkan dibacakan di depan umum dan orang tua mahasiswa.

Beberapa hal yang berkesan (dengan artian saya masih ingat) adalah sebagai berikut:

  • Cepatlah lulus, Indonesia sekarang bukan butuh aktivis, tapi engineer dan ilmuwan!
  • Mengangkat harkat dan martabat keluarga hanya dapat dilakukan melalui pendidikan (ia berasal dari keluarga kurang mampu)
  • Ingin mencari pasangan anak sipil, biar dapat membangun fondasi rumah tangga
  • Dosen banyak yang tidak penuh mengajarnya. // Sepertinya karena banyak proyek
  • Sangat-sangat banyak yang melakukan sesuatu karena orang tua.
  • Menunggu dosen berjam-jam hanya untuk bimbingan 10-15 menit
  • Teknik belajar 5S. 5 slide baru balas WA, Line, fb, etc.
  • Dan lainnya

Sebelumnya saya tidak pernah menghadiri acara wisuda, dan itu mungkin hal yang seharusnya saya sesali, tapi itu sudah berlalu sehingga tidak perlu disesali. Teman-teman yang masih di tingkat awal, hadirilah acara wisuda, baik sebagai protokoler, KPA, PSM, fotografer, atau perangkat lainnya. Yang penting saksikan acara wisuda, dan dengarkan baik-baik serta ikuti acaranya dengan penuh perhatian, karena itu akan mengubah hidupmu.